Saturday, December 23, 2006

Perawan Nina

Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku
menginap dirumah Om Bagas dan Tante Rita di Jakarta. Karena
kebetulan juga, tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah
terkenal di Manado. Jadi, kalau pas liburan panjang, otomatis
aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6 tahun Aku tak
pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi kerjaan
yang menumpuk. Baru pada tahun 2002 lalu Aku bisa merasakan
nikmatnya liburan panjang. Rumah Om Bagas bisa digolongkan
pada rumah mewah yang besar. Walaupun begitu, rumahnya sangat
nyaman. Itulah sebabnya aku senang sekali bisa liburan ke
sana.

Aku tiba di rumah Om Bagas pada pukul 22.00. karena kelelahan
aku langsung tidur pulas. Besok paginya, aku langsung disambut
oleh hangatnya nasi goreng untuk sarapan pagi. Dan yang bikin
aku kaget, heran bercampur kagum, ada sosok gadis yang dulunya
masih kelas 4 SD, tapi kini sudah tumbuh menjadi remaja yang
cantik jelita. Namanya Nina. Kulitnya yang putih, matanya yang
jernih, serta tubuhnya yang indah dan seksi, mengusik mataku
yang nakal.
"Hallo Kak..! Sorry, tadi malam Nina kecapean jadi tidak
menjemput kakak. Silahkan di makan nasi gorengnya, ini Nina
buat khusus dan spesial buat Kakak." Katanya sembari
menebarkan senyumnya yang indah. Aku langsung terpana.
"Ini benar Nina yang dulu, yang masih ingusan?" Kataku sambil
ngeledek.
"Ia, Nina siapa lagi! Tapi udah enggak ingusan lagi, khan?"
katanya sambil mencibir.
"Wah..! Udah lama enggak ketemu, enggak taunya udah gede.
Tentu udah punya pacar, ya? sekarang kelas berapa?" tanyaku.
"Pacar? Masih belum dikasih pacaran sama Papa. Katanya masih
kecil. Tapi sekarang Nina udah naik kelas dua SMA, lho! Khan
udah gede?" jawabnya sambil bernada protes terhadap papanya.
"Emang Nina udah siap pacaran?" tanyaku.
Nina menjawab dengan enteng sambil melahap nasi goreng.
"Belum mau sih..! Eh ngomong-ngomong nasinya dimakan, dong.
Sayang, kan! Udah dibuat tapi hanya dipelototin."
Aku langsung mengambil piring dan ber-sarapan pagi dengan
gadis cantik itu. Selama sarapan, mataku tak pernah lepas
memandangi gadis cantik yang duduk didepanku ini.
"Mama dan Papa kemana? koq enggak sarapan bareng?" tanyaku
sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke nanan.
Nina langsung menjawab, "Oh iya, hampir lupa. Tadi Mama nitip
surat ini buat kakak. Katanya ada urusan mendadak".
Nina langsung menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan
tangan. Aku langsung membaca surat itu. Isi surat itu
mengatakan bahwa Om Bagas dan Tante Rita ada urusan Kantor di
Surabaya selama seminggu. Jadi mereka menitipkan Nina
kepadaku. Dengan kata lain Aku kebagian jaga rumah dan menjaga
Nina selama seminggu.
"Emangnya kamu udah biasa ditinggal kayak gini, Nin?" tanyaku
setelah membaca surat itu.
"Wah, Kak! seminggu itu cepat. Pernah Nina ditinggal sebulan"
jawabnya.
"Oke deh! sekarang kakak yang jaga Nina selama seminggu.
Apapun yang Nina Mau bilang saja sama kakak. Oke?" kataku.
"Oke, deh! sekarang tugas kakak pertama, antarkan Nina
jalan-jalan ke Mall. Boleh, Kak?" Nina memohon kepadaku.
"Oh, boleh sekali. Sekarang aja kita berangkat!" setelah itu
kami beres-beres dan langsung menuju Mall.

Siang itu Nina kelihatan cantik sekali dengan celana Jeans
Ketat dan kaos oblong ketat berwarna merah muda. Semua serba
ketat. Seakan memamerkan tubuhnya yang seksi.
Pulang Jalan-jalan pukul 19. 00 malam, Nina kecapean. Dia
langsung pergi mandi dan bilang mau istirahat alias tidur. Aku
yang biasa tidur larut pergi ke ruang TV dan menonton acara
TV. Bosan menonton acara TV yang kurang menyenangkan, Aku
teringat akan VCD Porno yang Aku bawa dari Manado. Sambil
memastikan Nina kalau sudah tidur, Aku memutar Film Porno yang
Aku bawa itu. Lumayan, bisa menghilangkan ketegangan akibat
melihat bodinya Nina tadi siang.
Karena keasyikan nonton, Aku tak menyadari Nina udah sekitar
20 menit menyaksikan Aku Menonton Film itu.
Tiba-tiba, "Akh..! Nina memekik ketika di layar TV terlihat
adegan seorang laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang
perempuan. Tentu saja Aku pucat mendengar suara Nina dari arah
belakang. Langsung aja Aku matikan VCD itu.
"Nin, kamu udah lama disitu?" tanyaku gugup.
"Kak, tadi Nina mau pipis tapi Nina dengar ada suara desahan
jadi Nina kemari" jawabnya polos.
"Kakak ndak usah takut, Nina enggak apa-apa koq. Kebetulan
Nina pernah dengar cerita dari teman kalo Film Porno itu
asyik. Dan ternyata benar juga. Cuma tadi Nina kaget ada tikus
lewat". Jawab Nina. Aku langsung lega.
"Jadi Nina mau nonton juga?" pelan-pelan muncul juga otak
terorisku.
"Wah, mau sekali Kak!" Langsung aja ku ajak Nina menonton film
itu dari awal.
Selama menonton Nina terlihat meresapi setiap adegan itu.
Perlahan namun pasti Aku dekati Nina dan duduk tepat
disampingnya.
"Iseng-iseng kutanya padanya "Nina pernah melakukan adegan
begituan?" Nina langsung menjawab tapi tetap matanya tertuju
pada TV.
"Pacaran aja belum apalagi adegan begini."
"Mau ndak kakak ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! Nina
akan rasakan kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu.
Dia kelihatannya sangat menikmati adegan itu. Mau ndak?"
Tanyaku spontan.
"Emang kakak pandai dalam hal begituan?" tanya Nina menantang.

"Ee..! nantang, nih?" Aku langsung memeluk Nina dari samping.
Eh, Nina diam aja. Terasa sekali nafasnya mulau memburu tanda
Dia mulai terangsang dengan Film itu.
Aku tak melepaskan dekapanku dan Sayup-sayup terdengar Nina
mendesah sambil membisikkan, "Kak, ajari Nina dong!". Aku
seperti disambar petir.
"Yang benar, nih?" tanyaku memastikan. Mendengar itu Nina
langsung melumat bibirku dengan lembut. Aku membiarkan Dia
memainkan bibirku. Kemudian Nina melepas lumatannya.
"Nina serius Kak. Nina udah terangsang banget, nih!" Mendengar
itu, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung
melumat bibir indah milik Nina. Nina menyambut dengan lumatan
yang lembut.
Tiga menit kemudian entah siapa yag memulai, kami berdua telah
melepaskan pakaian kami satu persatu sampai tak ada sehelai
benangpun melilit tubuh kami. Ternyata Nina lebih cantik jika
dilihat dalam kondisi telanjang bulat. Aku mengamati setiap
lekuk tubuh Nina dengan mataku yang jelalatan dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Sempurna. Nina memiliki tubuh yang
sempurna untuk gadis seumur dia. Susunya yang montok dan padat
berisi, belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.
"Koq Cuma dilihat?" Lamunanku buyar oleh kata-kata Nina itu.
Merasa tertantang oleh kata-katanya, Aku langsung membaringkan
Nina di Sofa dan mulai melumat bibirnya kembali sambil
tanganku dengan lembutnya meremas-remas susunya Nina yang
montok itu. Nina mulai mendesah-desah tak karuan.
Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil tetap
meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah
muda kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.
"Oh.. Kak.. Kak..! Enak se.. ka.. li.. oh..!" desah Nina yang
membakar gairahku. Jilatanku turun ke perut dan pusar, lalu
turun terus sampai ke gundukan kecil milik Nina yang ditumbuhi
bulu-bulu halus yang masih sedikit.
"Ah.. Geli sekali, Kak.. Oh.. nikmat..!" desah Nina waktu Aku
jilat Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat
yang aku ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu Nina
yang montok itu. Tiba-tiba, Nina memekik dan melenguh tertahan
sambil mengeluarkan cairan vagina yang banyak sekali.
"Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. Kak.. oh..!" Itulah orgasme
pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan itu. Rasanya
gurih dan nikmat.
"Gimana Enak, Nin?" tanyaku sambil mencubit putting susunya.
"Wah, Kak! Nikmat sekali. Rasanya Nina terbang ke surga."
Jawabnya sambil meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku
langsung mencegahnya.
"Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi." Kataku.
"Sekarang kakak mau ajarin Nina yang kayak begitu" sambil
menunjuk adegan di TV dimana serang perempuan yang sedang
menghisap penis laki-laki.
"Gimana, mau?" Tanyaku menantang.
"Oke deh!" Nina menjawab dan langsung meraih penisku yang
masih tertidur. Nina mengocok perlahan penisku itu seperti
yang ada di TV. Lalu dengan malu-malu Dia memasukkannya ke
mulutnya yang hangat sambil menyedot-nyedot dengan lembut.
Mendapat perlakuan demikian langsung aja penis ku bangun.
Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan Air
maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang
lebih 15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus Nina,
penisku udah siap tempur.
"Nah sekarang pelajaran yang terakhir" Kataku. Nina menurut
aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. Nina
juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya
yang masih perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali
menjilat kelentit Nina sampai Vaginanya banjir lagi dengan
cairan surga. Nina hanya pasrah saja ketika Aku memasukkan
penisku ke dalam vaginanya.
"Ah.. Sakit, Kak.. oh.. Kak..!" jerit Nina ketika kepala
penisku menerobos masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya
supaya Nina tenang. Setelah itu kembali Aku menekan pinggulku.

"Oh.. Nina.. sempit sekali.. Kamu memang masih perawan, oh..!"
Nina hanya memejamkan mata sambil menahan rasa sakit di
vaginanya.
Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!
"Akh.. Kak.. sakit..!" Nina memekik tertahan ketika Aku
berhasil mencoblos keperawanannya dengan penisku. Terus saja
Aku tekan sampai mentok, lalu Aku memeluk erat Nina dan
berusaha menenangkan Dia dengan lumatan-lumatan serta
remasan-remasan yang lembut di payudaranya. Setelah tenang,
Aku langsung menggenjot Nina dengan seluruh kemampuanku.
"Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!" Nina mendesah tanpa arti.
Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai
memburu. Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak
tadi keremas-remas terus. Karena masih rapat sekali, penisku
terasa seperti di remas-remas oleh vaginanya Nina,
"Oh.. Nin, enak sekali vaginamu ini, oh..!" Aku mendesah
nikmat.
"Gimana, enak? nikmat?" tanyaku sambil terus menggenjot Nina.
"enak.. sekali, Kak.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, Kak..
oh..!" Desah Nina.
Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot Nina, tiba-tiba
Nina mengejang.
"K.. Kak..! Nina udah enggak tahan. Nina mau pi.. piss..
oh..!" Kata Nina sambil tersengal-sengal.
"Sabar, Nin! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu.." Aku
semakin mempercepat gerakan pinggulku.
"Dua.., Ti.. nggak.. oh.. yess..!" Aku Menyemburkan Spermaku,
croot.. croot.. croott..! Dan bersamaan dengan itu Nina juga
mengalami orgasme.
"Akh.. oh.. yess..!" Nina menyiram kepala penisku dengan
cairan orgasmenya. Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami
saling berpelukan menikmati indahnya orgasme. Setelah penisku
menciut di dalam vagina Nina, aku mencabutya. Dan langsung
terbaring di samping Nina. Kulihat Nina masih
tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, Aku mengecup dahi
Nina dan berkata
"Thank's Nina! Kamu telah memberikan harta berhargamu kepada
kakak. Kamu menyesal?" Sambil tersenyum Nina menggelengkan
kepalanya dan berkata,
"Kakak hebat. Nina bisa belajar banyak tentang Sex malam ini.
Dan Nina Serahkan mahkota Nina karena Nina percaya kakak
menyayangi Nina. Kakak tak akan ninggalin Nina. Thank's ya
Kak! Yang tadi itu nikmat sekali. Rasanya seperti di surga."
Kemudian kami membenahi diri dan membersihkan darah perawan
Nina yang berceceran di karpet. Masih memakai BH dan celana
dalam, Nina minta Aku memandikan Dia seperti yang Aku lakukan
sekitar enam tahun yang lalu. Aku menuruti kemauannya. Dan
kamipun madi bareng malam itu. Sementara mandi, pikiran
ngereskupun muncul lagi ketika melihat payudara Nina yang
mengkilat kena air dari shower. Langsung aja kupeluk Nina dari
belakang sambil kuremas payudaranya.
"Mau lagi nih..!" Kata Nina menggoda. Birahiku langsung naik
digoda begitu.
"Tapi di tempat tidur aja, Kak. Nina capek berdiri" kata Nina
berbisik. Aku langsung menggendong Nina ke tempat tidurnya dan
menggenjot Nina di sana. Kembali kami merasakan nikmatnya
surga dunia malam itu. Setelah itu kami kelelahan dan langsung
tertidur pulas.
Pagi harinya, aku bangun dan Nina tak ada disampingku. Aku
mencari-cari tak tahunya ada di dapur sedang menyiapkan
sarapan pagi. Maklum tak ada pembantu. Kulihat Nina hanya
memakai kaos oblong dan celana dalam saja. Pantatnya yang
aduhai, sangat elok dilihat dari belakang. Aku langsung
menerjang Nina dari belakang sambil mengecup leher putihnya
yang indah. Nina kaget dan langsung memutar badannya. Aku
langsung mengecup bibir sensualnya.
"Wah.. orang ini enggak ada puasnya..!" kata Nina Menggoda.
Langsung saja kucumbu Nina di dapur. Kemudian Dia melorotkan
celana dalamku dan mulai menghisap penisku. Wah, ada kemajuan.
Hisapannya semakin sempurna dan hebat. Aku pun tak mau kalah.
Kuangkat Dia keatas meja dan menarik celana dalamnya dengan
gigiku sampai lepas. Tanganku menyusup ke dalam kaos
oblongnya. Dan ternyata Nina tak memakai BH. Langsung aja
kuremas-remas susunya sambil kujilat-jilat kelentitnya. Nina
minta-minta ampun dengan perlakuanku itu dan memohon supaya
Aku menuntaskan kerjaanku dengan cepat.
"Kak.. masukin, Kak.. cepat.. oh.. Nina udah enggak tahan,
nih!" Mendengar desahan itu, langsung aja kumasukkan penisku
kedalam lubang surganya yang telah banjir dengan cairan
pelumas. Penisku masuk dengan mulus karena Nina sudah tidak
perawan lagi kayak tadi malam. Dengan leluasa Aku menggenjot
Nina di atas meja makan.
Setelah sekitar 15 menit, Nina mengalami orgasme dan disusul
dengan Aku yang menyemburkan spermaku di dalam vagina Nina.
"Oh.. enak.. Kak.. akh..!" desah Nina. Aku melenguh dengan
keras
"Ah.. yes..! Nina, kamu memang hebat.."
Setelah itu kami sarapan dan mandi sama-sama. Lalu kami pergi
ke Mall. Jalan-jalan.
Begitulah setiap harinya kami berdua selama seminggu. Setelah
itu Om Bagas dan Tante Rita pulang tanpa curiga sedikitpun
kamipun merahasiakan semuanya itu. Kalau ada kesempatan, kami
sering melakukkannya di dalam kamarku selama sebulan kami
membina hubungan terlarang ini. Sampai Aku harus pulang ke
Manado. Nina menangis karena kepergianku. Tapi Aku berjanji
akan kembali lagi dan memberikan Nina Kenikmatan yang tiada
taranya.

TAMAT

1 comment:

azzurafan said...

lagi yuk nin nikmati lagi
08563872577